Senin, 12 Agustus 2024

Ada Apa Dengan Morawa?

Kalau kita lihat di wilayah Minangkabau, terutama ketika ada acara adat atau perhelatan, kita akan banyak melihat berupa bendera, tapi bendera itu tidak seperti bendera biasanya. Seperti halnya bendera negara atau organisasi yang berbentuk persegi panjang, lain pula dengan bendera yang kita lihat di wilayah Minangkabau. 

Benderanya memiliki bentuk yang khas dan unik, dengan pola geometris yang berasal dari tradisi Minangkabau, seperti pola rumah gadang atau kain tenun songket. Dan memiliki warna kuning,merah dan hitam, terkadang ditambah dengan warna putih.

Bendera ini terkenal dengan nama "Morawa". dan telah menjadi ciri khas dan kebanggaan masyarakat Minangkabau. Karena morawa merupakan bagian dari budaya dan memiliki nilai sejarah dan kaya akan makna. Dan merupakan bagian penting sebagai ciri khas warga Minangkabau.

Semua warna morawa memiliki makna tersendiri. Warna kuning melambangkan luhak nan tuo (Tanah Datar)  yang mengandung falsafah adat "Aianyo janiah ikannyo jinak buminyo dingin"  ,artinya mempunyai keagungan, undang undang dan hukum. Jika acara adat diadakan di luhak Tanah Datar, maka warna kuning terletak di sebelah luar.

Warna merah melambangkan luhak Agam yang memiliki falsafah adat "Aianyo karuah Ikannyo Lia buminyo angel"  artinya mempunyai keberanian dan raso jo pareso (rasa dan pikiran). Dalam acara adat di luhak Agam warna merah morawanya terletak di sebelah luar,

Kemudian warna hitam merupakan lambang dari luhak nan bunsu ( limo puluah koto ) yang mengandung falsafah adat "Aianyo manih Ikannyo banyak buminyo tawa" yang mengandung arti tahan api dan mempunyai akal budi, jika acara adat diadakan di luhak ini maka warna hitam berada di luar.

Foto oleh id.quora.com

Di sisi lain,ada warna putih, yang melambangkan kemurnian Alia Jo patuik ( sesuai hukum dan raso pareso ). Tapi warna putih ini jarang ditemukan.

Dan tiangnya mengandung arti mambasuik dari bumi ( berasal atau keluar dari bumi )

Morawa di Minangkabau dipakai dalam setiap upacara adat, seperti pernikahan, batagak pangulu, atau upacara keagamaan seperti maulid nabi, bahkan acara festival budaya. Dan di lokasi publik yang mewakili identitas Minang seperti pusat kota dan pemerintahan. Dan sangat mungkin kita akan menemukannya di luar wilayah Minangkabau yang mana di sana orang Minang mengadakan acara, sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap budaya adat mereka..

Sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga dan melestarikan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Sebagai bagian dari bentuk cinta tanah air yang kaya dengan budaya dan sumber daya.

Kita tetap jaga nilai budaya kita selagi kita hidup dan wariska ke anak cucu kita agar Minang tetap berjaya. Sesuai dengan petuah adat " Ndak lajang dek paneh, Ndak lapuak dek hujan".  Apapun yang terjadi Minang akan tetap ada dan menjadi kebanggaan kita.